SRconsulting

ANR merupakan persekutuan yang menawarkan jasa pajak yang komprehensif.
Dalam menjalankan usaha kami meyakini bahwa kepercayaan yang telah diberikan klien kepada kami merupakan pedoman yang paling penting dan menjadi dasar untuk membuktikan bahwa mereka benar memilih kami dalam menangani permasalahan pajak.



Berita,

Geliat Industri Penunjang Terus Berlanjut
Harian Bisnis Indonesia, 20 September 2021

Bisnis, JAKARTA — Diskon pajak penjualan atas barang mewah untuk kendaraan bermotor yang berlaku mulai 1 Maret 2021 dan diperpanjang hingga akhir tahun diyakini kian mengerek kinerja industri penunjangnya seperti komponen otomotif dan ban.
  
Pemerintah  melalui  Peraturan  Menteri  Keuangan (PMK) No. 120/2021 resmi memperpanjang  diskon  pajak  penjualan  atas  barang  mewah  (PPnBM)  100%  untuk mobil dengan isi silinder di bawah 1.500 cc sampai Desember 2021.
 
Periode  pertama  berlangsung  Maret-Mei, diikuti dengan periode selanjutnya  Juni-Agustus,  dan  kini  diperpanjang  hingga  akhir  tahun.

Ketua  Dewan  Pengawas  Perkumpulan  Industri  Kecil  dan  Menengah  Komponen  Otomotif  (PIKKO)  Wan  Fauzi  menyambut  baik perpanjangan kebijakan ini. Adapun saat ini, tingkat permintaan komponen  masih  di  angka  60%.
 
Diharapkan sampai akhir tahun, permintaan dapat terkerek menjadi 70%. Dia pun mengakui ada tren peningkatan permintaan komponen sejak diskon PPnBM diberlakukan.“
 
[Sejak diskon PPnBM berlaku], ada  kenaikan  [penjualan]  sekitar  10%,”  ujar  Fauzi  kepada  Bisnis, Sabtu  (18/9).
 
Setali  tiga  uang,  Hamdani  Zul karnaen  Salim,  Ketua  Umum  Gabungan  Industri  Alat  Mobil  dan  Motor  (GIAMM)  pun  meng harapkan  efek  pengganda  diskon PPnBM terhadap penjualan komponen  otomotif.

Insentif  ini  juga  diharapkan  dapat  meredam  dampak  dari  kenaikan  harga  komoditas  bahan  baku  sepanjang  tahun  ini  yang  membebani  ongkos  produksi.

“Tentunya  itu  hal  yang  positif  karena  bisa  mendorong  market.  Kami berharap ini akan mendorong penjualan mobil dan pada ujungnya akan  mendorong  penjualan  komponen  juga,”  ujar  Hamdani.
 
Tak ketinggalan, industri ban juga ketiban berkah dari kebijakan ini. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban  Indonesia  (APBI)  Azis  Pane  mengatakan  meski  dampaknya  lambat ke industri ban, pihaknya melihat kenaikan penjualan sekitar 7%  sepanjang  tahun  ini.

“Sekarang ini belum begitu terasa [dampaknya], ada sedikit [kenaikan penjualan],  tidak  sampai  10%, 7% kira-kira,”  kata  Azis.
 
Selanjutnya,  dampak  dari  perpanjangan kebijakan ini diperkirakan masih akan terasa ke industri ban hingga 2 tahun ke  depan.

Azis mengatakan penjualan ban ke industri otomotif terutama mobil memang mengalami kenaikan akhir-akhir ini. Namun, banyaknya pabrikan mobil yang telah memiliki stok ban menjadikan  kenaikan  penjualan  tidak  signifi kan.
 
“Itu  efeknya akan terasa nanti 2 tahun ke depan,”  imbuhnya.
 
Ada sekitar 319  perusahaan industri  komponen tier 1 yang  terlibat dengan produsen kendaraan peserta PPnBM. Industri  komponen tier 2 dan 3 yang sebagian termasuk industri kecil menengah (IKM) juga diharapkan terdampak peningkatan utilisasi  dan kinerja.

Adapun, berdasarkan catatan Kementerian  Perindustrian,  penjualan  mobil  peserta  PPnBM di bawah 1.500 cc pada Januari-Agustus 2021  sebanyak  175.000 unit. Angka ini meningkat sebesar 51% secara year-on-year(YoY) dibandingkan dengan  periode  yang  sama  tahun  lalu.
 
Untuk mobil peserta PPnBM di atas 1.500 cc, penjualannya  selama  periode tersebut tercatat sebanyak  44.680  unit  atau meningkat 64,4% dibandingkan  dengan  Januari-Agustus 2020.  Kemenperin  memproyeksikan  perpanjangan  stimulus  PPnBM  hingga  Desember  2021  akan  menambah  penjualan  kendaraan  sebanyak  35.553  unit. 
 
Peneliti di Pusat  Industri,  Perdagangan, dan Investasi  Indef  Ahmad Heri Firdaus mengapresiasi kebijakan ini karena telah  mampu  mendongkrak penjualan mobil sepanjang tahun ini.

Namun, untuk dapat memberikan efek pengganda yang lebih besar pada industri penunjang otomotif, menurutnya local purchase harus diperluas dari saat ini 60%. Bahkan dia juga mengusulkan perlunya  ketentuan  mengenai  muatan lokal (local content) agar dampaknya  juga  meluas  pada  industri bahan baku domestik.

“Kebijakan ini terbukti menggairahkan industri-industri turunannya. Ini baru 60%, bagaimana kalau lebih? Pasti akan lebih bagus lagi buat industri yang ada di bawahnya,” ujar Ahmad kepada Bisnis, Minggu (19/9).

Awalnya, PMK No.20/2021 mengatur local purchase sebesar 70%  untuk  mobil  berkubikasi  mesin kurang dari 1.500 cc kategori sedan 4x2. Namun, ketentuan itu diturunkan menjadi 60%  pada PMK No.31/2021.

Dia menambahkan kebijakan itu hendaknya diikuti dengan insentif serupa pada mobil listrik. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengurangi emisi melalui kebijakan pajak karbon.

Heri mengingatkan insentif PPnBM ini hanya bersifat sementara dan dimaksudkan untuk memberikan stimulus untuk industri otomotif dan turunannya.
 
Ketika  stimulus  itu  berakhir,  lanjut  Ahmad,  giliran  mobil  listrik  yang  diberi  insentif  untuk  mendorong minat masyarakat pada kendaraan minim  emisi.   

“Katakanlah yang mobil listrik nanti tidak ada PPnBM-nya, atau pajak-pajaknya dikurangi. Terus ke depan mobil yang menghasilkan  emisi, dikasih pajak karbon. Mulai harus  dipikirkan  upaya  untuk  men-switch agar masyarakat lebih terdorong untuk membeli EV,” jelasnya.

MENGEREK PMI

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berharap perpanjangan diskon PPnBM ini dapat mendorong Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali ke jalur ekspansif. Sebelumnya, pada Juli dan Agustus PMI manufaktur Indonesia berada di level kontraksi, masing-masing  40,1  dan  43,7.

Agus pun mengatakan pertumbuhan  sektor  manufaktur  pada  triwulan  II/2021  didorong  oleh  pesatnya kinerja industri otomotif yang meningkat 45,7%. Dia  juga memproyeksikan tambahan penerimaan pajak sebesar Rp2,22 triliun dengan meningkatnya penjualan mobil yang didukung  stimulus  PPnBM.
 
Dengan industri yang ekspansif dan optimistis menjalankan aktivitasnya, kami perkirakan pertumbuhan industri pada triwulan  III/2021  bisa  lebih  baik  lagi,” kata  Agus.

Adapun, berdasarkan hasil kajian Institute for Strategics Inisiative (ISI),  pada  Maret-Mei  2021,  nilai  penjualan  mobil  dengan  PPnBM  lebih  tinggi  Rp22,95  triliun  dibanding  dengan  periode  yang  sama  2020. Dengan program tersebut, industri berpotensi menciptakan kesempatan kerja total 183.000 orang.
 
Selain itu, kebijakan tersebut  menciptakan  pendapatan rumah tangga bagi pekerja di sektor otomotif dan sektor lain yang terkait sebesar Rp6,6 triliun dibandingkan tanpa pemberlakukan program relaksasi tersebut.
 
Diskon PPnBM juga menunjukkan peningkatan penciptaan output pada industri senilai Rp29 triliun.

Kembali ke atas - Kembali ke Arsip Berita

Pencariaan Data


Kurs Menteri Keuangan

Mata Uang (Rp.)
EUR 16944.05
USD 14414
GBP 19778.92
AUD 10443.81
SGD 10647.87
* Rupiah

Masa Berlaku : 1 September 2021 - 7 September 2021

Show all